OLEH
ALIF HASANAH
Abstrak
Salah satu bentuk karya sastra adalah drama. Drama mengambil bentuk pada manusia (tokoh) yang diberikan segi-segi dan perannya. Dengan kata lain, manusia di dalam karya sastra, seperti drama adalah subjek yang kehadirannya di dalam teks, tidak sekedar ada atau sebagai lembaran belaka, tetapi sangat berperan sebagai penentu dan pembawa makna. Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimanakah penokohan dalam naskah drama “Pagi Bening” karya Serafin dan Joaquin Alvarez Quintero. Tujuan dari analisis ini adalah untuk mencari dan mendeskripsikan penokohan dalam naskah drama “Pagi Bening” karya Serafin dan Joaquin Alvarez Quintero. Adapun yang menjadi objek analisis ini adalah keseluruhan dari tokoh drama “Pagi Bening” dan hubungan antar tokoh-tokoh itu. Hasil analisis menunjukan bahwa dalam naskah drama “Pagi Bening” tokoh Laura berperan sebagai seorang wanita tua yang sudah berumur 70 tahun, namun masih nampak kecantikan dan mentalnya yang baik ketika dia masih usia remaja. Tokoh Gonzalo berperan sebagai seorang lelaki tua yang juga berumur 70 tahun dan masih nampak juga sifat agak congkak dan selalu tidak sabaran di usianya yang sudah senja. Petra berperan sebagai gadis pembantu Laura. Juanito berperan sebagai pemuda pembantu Gonzalo.
Latar Belakang
Sastra adalah suatu produk budaya. Di dalamnya penuh dinamika manusia. Dari dinamika inilah manusia dapat ditelusuri dari sudut pandang apa saja. Oleh karena itu, sastra dan kehidupan manusia merupakan dua segi yang tidak dapat dipisahkan. Karena keduanya saling mengisi, saling melengkapi dan saling membutuhkan.
Karya sastra akan selalu menarik perhatian karena pengungkapannya terkait erat dengan penghayatan manusia yang paling dalam di dalam perjalanan hidupnya. Sebagai manusia, manusia selalu menemui dirinya dalam situasi tertentu. Lebih dari itu, manusia hanya mungkin menjalani perannya bilamana ia berada bersama orang lain. Untuk itu, Hasan (1989:120) mengatakan, “Manusia selalu terlibat dengan peristiwa-peristiwa dalam situasi sosial sifatnya”. Karena manusia selalu membutuhkan orang lain dalam perjalanan hidupnya.
Dalam karya sastra khususnya drama, mengambil bentuk manusia (tokoh) yang diberikan segi-segi dan perannya. Dengan kata lain, manusia di dalam karya sastra lainnya seperti puisi, prosa, merupakan subjek yang dinamis yang dihadirkan oleh pengarang, dan kehadiran manusia di dalam teks tidak sekedar ada atau sebagai lembaran belaka, tetapi sangat berperan sebagai penentu dan pembawa makna. Kehadiran manusia (tokoh) tersebut, yaitu tokoh tekstual dan sangat mungkin berkorelasi dengan tokoh-tokoh manusia faktual, setelah dilihat dan ditempatkan secara kontekstual.
Untuk dapat membangun persoalan dan menciptakan konflik-konflik dari tokoh-tokoh yang dihadirkan oleh pengarang, biasanya melalui peran-peran tertentu yang harus mereka lakukan. Jumlah peran yang harus diemban tokoh biasanya tergantung dengan interaksi sosial yang dilakukannya. Setiap peran umumnya selalu hadir berpasangan dengan peran lain dalam membentuk suatu permasalahan atau konflik. Sehingga terbentuk misi permasalahan dan konflik yang berbeda drama yang akan menyebabkan perubahan peran sebagai perwujudan pikiran dan perasaan tokoh dalam perannya itu.
Sastra sebagai salah satu cabang seni bacaan, tidak hanya cukup dianalisis dari segi kebahasaan, tetapi juga harus melalui studi khusus yang berhubungan dengan literary teks, karena teks sastra yang bagaimana pun memiliki ciri tersendiri yang berbeda dengan ragam bacaan lainnya.
Menurut Hasanuddin (1996: 58) bahwa “secara umum dapat dikatakan drama mendekati, atau bahkan dapat diidentikkan dengan fiksi”. Biasanya, rumusan tentang keidentikan ini diperoleh dari penelusuran tentang bagaimana unsur cerita atau peristiwa dihadirkan oleh pengarang. Sehingga di dalam drama terdapat pula unsur-unsur yang biasa dikenal dengan istilah fiksionalitas. Walaupun demikian terdapat pula perbedaan antara drama dengan karya fiksi lainnya seperti novel atau cerpen, terutama dari unsur pemaparannya. Drama dalam menyampaikan peristiwa dan tokoh lebih mengutamakan ucapan-ucapan tokoh, bahkan adakalanya mengabaikan ucapan-ucapan tokohnya. Karena pada drama, dialog merupakan sarana primer di dalam karya fiksionalitas drama, permasalahan di dalam drama lebih terbatas pada latar tertentu, seperti waktu, tempat, dan suasana. Namun demikian drama dapat lebih mengutamakan spesifik dalam menggambarkan tokoh dan penokohannya, baik secara fisiologis, psikologis, maupun sosiologisnya.
Dari rumusan di atas, penulis melihat adanya hubungan dengan keberadaan manusia (tokoh) dalam naskah drama “Pagi Bening” yaitu sebagai bahan analisis penulis. Sama halnya dengan naskah-naskah drama yang lain, naskah drama “Pagi Bening” menyuguhkan masalah manusia (tokoh). Menangkap makna apa yang sebenarnya terkandung dalam naskah drama “Pagi Bening”, maka tentunya manusia dapat membuka diri untuk menganalisis apa yang terkandung dalam naskah drama tersebut serta menangkap keberadaan manusia (tokoh) di dalamnya.
Berdasarkan latar belakang inilah, penulis mengadakan analisis yang berjudul “Analisis Penokohan Dalam Naskah Drama “Pagi Bening” karya Serafin dan Joaquin Alvarez Quintero.
Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang dikemukakan dalam analisis ini adalah bagaimanakah penokohan dan hubungan antar tokoh dalam naskah drama “Pagi Bening” karya Serafin dan Joaquin Alvarez Quintero.
Tujuan
Analisis ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui penokohan dan hubungan antar tokoh dalam naskah drama “Pagi Bening” karya Serafin dan Joaquin Alvarez Quintero.
Pembahasan
Karya sastra termasuk drama merupakan suatu bentuk kreatifitas, maka bagaimana pengarang mewujudkan dan mengembangkan tokoh-tokoh ceritanya pun tak langsung dari kebebasan kreativitasnya. Sehingga dalam karya sastra mengandung dan menawarkan model kehidupan seperti yang disikapi dan dialami oleh tokoh-tokoh cerita sesuai dengan pandangan pengarang terhadap kehidupan itu sendiri. Oleh karena yang sengaja menciptakan dunia dalam karya fiksi, ia mempunyai kebebasan penuh untuk menampilkan tokoh-tokoh cerita, siapa orangnya, apa pun status sosialnya, bagaimana penokohannya, dan permasalahan apa yang dihadapinya.
Khusus dalam naskah drama “Pagi Bening” yang membahas masalah penokohan memiliki sejumlah persoalan yang berbeda-beda dan mempunyai peranan yang berbeda pula, baik di dalam keluarga maupun dalam masyarakat.
Penokohan dalam naskah drama ini memperlihatkan peran sertanya dalam keluarga maupun masyarakat, walaupun itu tidak sesuai dengan keinginan atau bertolak belakang dengan kenyataan yang ada dalam kehidupan pada umumnya, sehingga kehidupan mereka terbelenggu dengan kenyataan-kenyataan yang ada.
Di bawah ini akan diuraikan bagaimana penokohan dalam naskah drama tersebut dalam upaya melepaskan diri dari belenggu yang dihadapinya.
Deskripsi Naskah Drama
Naskah Drama Pagi Bening adalah naskah drama komedi satu babak yang berasal dari tanah Spanyol, diciptakan oleh Serafin dan Joaquin Alvarez Quintero dan diterjemahkan oleh Drs. Sapardi Djoko Damono pada tahun 2006. Tempat kejadian (setting tempat) drama ini di Madrid-Spanyol, di suatu taman terbuka, pada masa ini juga. Sementara itu, tokoh yang disajikan adalah Donna Laura, wanita berumur 70 tahun dan ditampilkan masih nampak jelas bahwa dulunya adalah seorang gadis cantik dan segala tindak tanduknya mencerminkan mental yang baik. Selain itu, ada Don Gonzalo, lelaki tua kira-kira berumur 70 tahun lebih, agak congkak dan selalu tampak tidak sabaran. Kemudian, sebagai tokoh pembantu, terdapat Petra dan Juanito. Petra, seorang gadis pembantu Laura, sedangkan Juanito adalah pemuda pembantu Gonzalo.
Identifikasi Penokohan Dalam Naskah Drama “Pagi Bening”.
Peran Tokoh Donna Laura
Donna Laura adalah seorang wanita tua yang berumur kira-kira 70 tahun. Di usianya yang sudah senja itu, masih nampak jelas aura-aura kecantikan di masa mudanya. Dan tindak tanduknya menunjukkan bahwa dia mempunyai mental yang baik. Dia adalah seorang nenek yang kerap kali pergi dan duduk di taman. Setiap hari, ia duduk di tempat duduk yang sama sehingga menganggap tempat duduk itu seolah-olah miliknya. Ia duduk di bangku taman sambil memberikan remah roti kepada merpati-merpati di taman. Seperti yang terdapat dalam kutipan berikut:
LAURA: Adios! (MEMANDANG KE ARAH PEPOHONAN). Ha, mereka datang. Mereka tahu kapan mesti datang menemui aku (BANGKIT DAN MENYERAHKAN REMAH-REMAH ROTI). Ini buat yang putih, ini untuk yang coklat, dan ini untuk yang paling kecil tapi kenes. (TERTAWA DAN DUDUK LAGI MEMANDANG MERPATI YANG SEDANG MAKAN). Ah, merpati-merpati yang manis. Itu yang besar mesti lebih dulu, kentara dari kepalanya yang besar, dan itu ... aduh , kenes benar. Hai, yang satu itu selesai mematuk terus terbang ke dahan. Bersunyi diri. Agaknya ia suka berfilsafat. Tapi dari mana saja mereka ini datang? Seperti kabar angin saja! Meluas dengan mudah. Ha, ha, jangan bertengkar. Masih banyak. Besok kubawakan yang lebih banyak lagi!
Peran Tokoh Don Gonzalo
Dalam drama ini, Don Gonzalo digambarkan sebagai seorang lelaki tua yang sudah berumur kira-kira 70 tahun. Sama halnya dengan Laura, Gonzalo adalah seorang kakek yang kerap kali datang ke taman dan duduk di bangku yang biasa dia duduki setiap kali datang ke taman. Namun tidak pada pagi itu, bangku taman yang biasa ditempati oleh dia telah ditempati oleh tiga orang pendeta. Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya dia duduk di sebelah Laura.
GONZALO :Membuang-buang waktu melulu! Mereka itu suka benar bicara yang bukan-bukan.
JUANITO :Duduk di sini sajalah, senior. Hanya ada seorang wanita.
(DONA LAURA MENENGOK DAN MENDENGARKAN)
GONZALO :Tidak, Juanito. Aku mau tersendiri.
JUANITO :Tapi tak ada .
GONZALO :Yang di sana itu kan milikku!
JUANITO :Tiga orang pendeta duduk di sana, Senior!
GONZALO :Singkirkan saja mereka! ... ... ... Sudah pergi!
JUANITO :Tentu saja belum! Mereka tengah bercakap-cakap.
GONZALO :Seperti merekat pada bangku saja mereka itu! Heh, tak ada harapan lagi, Juanito. Mari!
Peran Tokoh Petra
Dalam drama ini, Petra berperan sebagai gadis pembantu Laura. Setiap pagi dia selalu menemani Laura jalan-jalan ke taman sambil memegangkan remah roti yang akan diberikan ke merpati-merpati yang ada di taman. Dalam drama ini dijelaskan posisi Petra sebagai pembantu, sedangkan Laura sebagai majikan atau yang dibantu. Hal tersebut juga dibuktikan dengan panggilan “Senora” oleh Petra yang ditujukan pada Laura. Seperti pada kutipan berikut.
PETRA :Baik, Senora (BERJALAN KE KANAN)
LAURA :Hei, nanti dulu!
PETRA :Ada apa lagi, Senora?
LAURA :Berikan remah-remah roti itu!
PETRA :Ah, pelupa benar aku ini!
LAURA :(SENYUM) Aku tahu! Pikiranmu sudah lekat ke sana, heh, si tukang
kebun itu!
PETRA :Ini, Senora (MENGELUARKAN BUNGKUSAN ROTI. KELUAR KE KANAN)
Peran Tokoh Juanito
Dalam drama ini, Juanito berperan sebagai lelaki pembantu Gonzalo. Setiap pagi dia selalu menemani Gonzalo jalan-jalan ke taman. Seperti pada kutipan berikut.
GONZALO :Membuang-buang waktu melulu! Mereka itu suka benar bicara yang
bukan-bukan.
JUANITO :Duduk di sini sajalah, senior. Hanya ada seorang wanita.
(DONA LAURA MENENGOK DAN MENDENGARKAN)
GONZALO :Tidak, Juanito. Aku mau tersendiri.
JUANITO :Tapi tak ada .
Hubungan Antar tokoh
Donna Laura adalah seorang wanita tua yang berumur kira-kira 70 tahun. Di usianya yang sudah senja itu, masih nampak jelas aura-aura kecantikan di masa mudanya. Dan tindak tanduknya menunjukkan bahwa dia mempunyai mental yang baik. Dia adalah seorang nenek yang kerap kali pergi dan duduk di taman. Setiap hari, ia duduk di tempat duduk yang sama sehingga menganggap tempat duduk itu seolah-olah miliknya. Ia duduk di bangku taman sambil memberikan remah roti kepada merpati-merpati di taman. Seperti yang terdapat dalam kutipan berikut:
LAURA: Adios! (MEMANDANG KE ARAH PEPOHONAN). Ha, mereka datang. Mereka tahu kapan mesti datang menemui aku (BANGKIT DAN MENYERAHKAN REMAH-REMAH ROTI). Ini buat yang putih, ini untuk yang coklat, dan ini untuk yang paling kecil tapi kenes. (TERTAWA DAN DUDUK LAGI MEMANDANG MERPATI YANG SEDANG MAKAN). Ah, merpati-merpati yang manis. Itu yang besar mesti lebih dulu, kentara dari kepalanya yang besar, dan itu ... aduh , kenes benar. Hai, yang satu itu selesai mematuk terus terbang ke dahan. Bersunyi diri. Agaknya ia suka berfilsafat. Tapi dari mana saja mereka ini datang? Seperti kabar angin saja! Meluas dengan mudah. Ha, ha, jangan bertengkar. Masih banyak. Besok kubawakan yang lebih banyak lagi!
Peran Tokoh Don Gonzalo
Dalam drama ini, Don Gonzalo digambarkan sebagai seorang lelaki tua yang sudah berumur kira-kira 70 tahun. Sama halnya dengan Laura, Gonzalo adalah seorang kakek yang kerap kali datang ke taman dan duduk di bangku yang biasa dia duduki setiap kali datang ke taman. Namun tidak pada pagi itu, bangku taman yang biasa ditempati oleh dia telah ditempati oleh tiga orang pendeta. Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya dia duduk di sebelah Laura.
GONZALO :Membuang-buang waktu melulu! Mereka itu suka benar bicara yang bukan-bukan.
JUANITO :Duduk di sini sajalah, senior. Hanya ada seorang wanita.
(DONA LAURA MENENGOK DAN MENDENGARKAN)
GONZALO :Tidak, Juanito. Aku mau tersendiri.
JUANITO :Tapi tak ada .
GONZALO :Yang di sana itu kan milikku!
JUANITO :Tiga orang pendeta duduk di sana, Senior!
GONZALO :Singkirkan saja mereka! ... ... ... Sudah pergi!
JUANITO :Tentu saja belum! Mereka tengah bercakap-cakap.
GONZALO :Seperti merekat pada bangku saja mereka itu! Heh, tak ada harapan lagi, Juanito. Mari!
Peran Tokoh Petra
Dalam drama ini, Petra berperan sebagai gadis pembantu Laura. Setiap pagi dia selalu menemani Laura jalan-jalan ke taman sambil memegangkan remah roti yang akan diberikan ke merpati-merpati yang ada di taman. Dalam drama ini dijelaskan posisi Petra sebagai pembantu, sedangkan Laura sebagai majikan atau yang dibantu. Hal tersebut juga dibuktikan dengan panggilan “Senora” oleh Petra yang ditujukan pada Laura. Seperti pada kutipan berikut.
PETRA :Baik, Senora (BERJALAN KE KANAN)
LAURA :Hei, nanti dulu!
PETRA :Ada apa lagi, Senora?
LAURA :Berikan remah-remah roti itu!
PETRA :Ah, pelupa benar aku ini!
LAURA :(SENYUM) Aku tahu! Pikiranmu sudah lekat ke sana, heh, si tukang
kebun itu!
PETRA :Ini, Senora (MENGELUARKAN BUNGKUSAN ROTI. KELUAR KE KANAN)
Peran Tokoh Juanito
Dalam drama ini, Juanito berperan sebagai lelaki pembantu Gonzalo. Setiap pagi dia selalu menemani Gonzalo jalan-jalan ke taman. Seperti pada kutipan berikut.
GONZALO :Membuang-buang waktu melulu! Mereka itu suka benar bicara yang
bukan-bukan.
JUANITO :Duduk di sini sajalah, senior. Hanya ada seorang wanita.
(DONA LAURA MENENGOK DAN MENDENGARKAN)
GONZALO :Tidak, Juanito. Aku mau tersendiri.
JUANITO :Tapi tak ada .
Hubungan Antar tokoh
Tokoh Laura dan Tokoh Gonzalo
Hubungan Laura dan Gonzalo menunjukan hubungan sepasang kekasih yang saling mencintai saat mereka masih muda. Mereka berdua memiliki kisah cinta yang menarik. Pada saat itu, Gonzalo sangat tertarik dengan kecantikan Laura. Dia mendeskripsikan Laura sebagai seorang gadis ideal, manis bagai kembang lilia, berambut hitam, tubuhnya ramping sempurna. Begitu Laura. Dia juga terpesona terhadap Gonzalo. Mereka pun menjalin cinta. Namun sesuatu hal terjadi yang membuat mereka harus berpisah. Saat itu keluarga Laura menginginkan Laura menikah dengan seorang saudagar.
Pada suatu malam, ketika Gonzalo tengah menanti Laura di bawah jendela, saudagar itu muncul dan menghina Gonzalo. Pertengkaran pun terjadi dan menyebabkan saudagar itu luka-luka parah. Gonzalo bersembunyi dan kemudian melarikan diri ke Madrid. Gonzalo terus-menerus mengirimkan surat-surat diantaranya berupa sajak-sajak. Tapi surat-surat itu tak sampai ke tangan Laura melainkan ke tangan orang tuanya. Laura pun tak sempat membalas surat Gonzalo dan tak lagi mendengar kabarnya.
Laura menikah dengan orang lain setelah dua tahun kepergian Gonzalo, dan Gonzalo pun menikah dengan penari ballet dari Paris.
Kini hubungan mereka tidak lagi sepasang kekasih melainkan hubungan manusia pada umumnya yaitu hubungan sosial. Mereka bertemu dengan umur yang sudah senja di sebuah taman dengan suasana yang berbeda. Anehnya, saat mereka bertemu di taman itu, mereka tidak lagi saling kenal. Gonzalo datang ke taman itu bersama pembantunya dan Laura pun demikian. Dan lebih anehnya lagi, mereka duduk satu bangku, kemudian mereka bercerita tentang kisah cinta masa lalu mereka. Dalam cerita itu, mereka mengganti diri mereka dengan saudara sepupu dan teman mereka. Gonzalo mengganti dirinya dengan saudara sepupunya, seolah-seolah saudara sepupunya yang mengalami peristiwa itu, sedangkan Laura mengganti dirinya dengan temannya.
Hingga mereka berpisah dari taman itu, mereka masih menutup diri antara satu dengan yang lainnya. Hanya dalam hati mereka menerka-menerka. Dalam hati Laura menerka “Mungkinkah itu Gonzalo”, sedangkan Gonzalo menerka “Mungkinkah itu Laura”.
Hubungan Laura dan Petra
Hubungan Laura dan Petra dalam naskah drama ini adalah hubungan sosial yaitu hubungan antara majikan dan pembantu. Laura sebagai majikan, sedangkan Petra sebagai pembantu.
Hubungan Gonzalo dan Juanito
Hubungan Gonzalo dan Juanito dalam naskah drama ini adalah sama halnya dengan hubungan antara Laura dan Petra yaitu hubungan sosial (antara majikan dan pembantu). Gonzalo sebagai majikan dan Juanito sebagai pembantu.
Hubungan Laura dan JuanitoDalam drama ini, Laura dan Juanito tidak memiliki hubungan apa-apa, baik dalam percintaan maupun dalam status sosial.
Hubungan Gonzalo dan Petra
Sama halnya dengan hubungan Laura dan Juanito, Gonzalo dan Petra juga tidak memiliki hubungan apa-apa dalam naskah drama ini.
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa:
1. Drama Pagi Bening terdiri atas 4 tokoh, yaitu Laura, Gonzalo, Petra, dan Juanito.
2. Penokohan dalam drama ini, yaitu: Laura sebagai seorang wanita tua yang telah berumur 70 tahun, namun kecantikan dan mentalnya yang baik masih nampak meskipun dia sudah tua. Gonzalo sebagai seorang lelaki tua yang berumur 70 tahun dan memiliki sifat agak congkak dan selalu tidak sabaran. Petra sebagai gadis pembantu Laura. Juanito sebagai pemuda pembantu Gonzalo.
3. Hubungan antar tokoh dalam drama ini yaitu: Laura dan Gonzalo memiliki hubungan sepasang kekasih saat muda dan ketika mereka sudah tua, hubungan mereka seperti hubungan manusia pada umumnya yaitu hubungan sosial. Laura dan Petra memiliki hubungan sosial yaitu antara majikan dan pembantu. Gonzalo dan Juanito juga memiliki hubungan sosial yaitu antara majikan dan pembantu.
Daftar Pustaka
http://teguhwirwan.blogdetik.com/2009/07/19/konflik-dalam-naskah-drama-dag-dig-dug-karya-putu-wijaya/ (20 Juni 2010)
http://gdl.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jiptumm-gdl-s1-2002-efy-5888-analisis&q=Hidup
(tgl 22 juni 2010)
Ratna, Nyoman Kutha. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.2008
Riwayat Hidup Penulis
Alif Hasanah lahir di Gunung Sejuk, Kabupaten Buton, 22 November 1989. Dia menyelesaikan pendidikan sekolah dasar di SD Negeri 2 Gunung Sejuk pada tahun 2002. Melanjutkan Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri I Pasarwajo dan tamat pada tahun 2005. Dan melanjutkan Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri I Pasarwajo. Dan sekarang dia adalah mahasiswa semester 4 pada program studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah FKIP Unhalu angkatan 2008. Organisasi yang sekarang dia ikuti adalah Sanggar Laskar Sastra (Lastra) Unhalu, Lingkar Studi Ilmiah Penalaran (LSIP) Unhalu, Unit Kegiatan Kerohanian Islam Unhalu, Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (HMPS-PBSID) FKIP Unhalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar